Home » , , , » Artikel Difteri

Artikel Difteri

Created by:
Azhadira Crew (2004)
Universitas pendidikan Ganesha


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Infeksi saluran pernafasan yang umum dikenal dengan penyakit  difteri adalah salah satu alasan utama  masyarakat baik dari anak-anak hingga dewasa untuk  mencari pelayanan medik. Difteri ini merupakan morbiditas besar dan mempunyai dampak ekonomi yang besar dikalangan masyarakat. Penyakit difteri ini disebabkan oleh bakteri toksin Corynebakterium diphtheriae. Bakteri ini lebih sering menyerang anak-anak yang berumur di bawah 15 tahun yang belum mendapatkan imunisasi dan sering juga dijumpai pada kelompok remaja yang tidak mendapatkan imunisasi.  Walupun  bayi yang lahir dari ibu yang memiliki imunitas dan biasanya  imunitas ini akan diturunkan pada bayinya. Namun Perlindugan yang  diberikan bersifat pasif dan biasanya hilang sebelum bulan keenam.
Imunitas seumur hidup tidak selalu didapatkan dari ibu melaikan imunitas yang didapat setelah sembuh dari penyakit atau dari infeksi yang subklinis.
Penyakit difteri  muncul terutama pada bulan-bulan dimana temperatur lebih dingin di negara subtropis.. Di negara tropis variasi musim kurang jelas, yang sering terjadi adalah infeksi subklinis dan difteri kulit. Di Amerika Serikat dari tahun 1980 hingga 1998, kejadian difteri dilaporkan rata-rata 4 kasus setiap tahunnya; dua pertiga dari orang yang terinfeksi kebanyakan berusia 20 tahun atau lebih. Kejadian luar biasa (KLB) yang sempat luas terjadi di Federasi Rusia pada tahun 1990 dan kemudian menyebar ke negara-negara lain yang dahulu bergabung dalam Uni Soviet dan Mongolia. Faktor risiko yang mendasari terjadinya infeksi difteri dikalangan orang dewasa adalah menurunnya imunitas yang didapat karena imunisasi pada waktu bayi, tidak lengkap jadwal imunisasinya  oleh karena kontraindikasi yang tidak jelas, adanya gerakan yang menentang imunisasi serta menurunnya tingkat sosial ekonomi masyarakat. Wabah mulai menurun setelah penyakit tersebut mencapai puncaknya pada tahun 1995 meskipun pada kejadian tersebut dilaporkan telah terjadi 150.000 kasus dan 5.000 diantaranya meninggal dunia antara tahun 1990-1997. Di Ekuador telah terjadi KLB pada tahun 1993/1994 dengan 200 kasus, setengah dari kasus tersebut berusia 15 tahun ke atas. Pada kedua KLB tersebut dapat diatasi dengan cara melakukan imunisasi massal.seperti  Imunisasi toxoid memberikan kekebalan cukup lama namun bukan kekebalan seumur hidup. Sero survey di Amerika Serikat menunjukkan bahwa lebih dari 40% remaja kadar antitoxin protektifnya rendah, tingkat imunitas di Kanada, Australia dan beberapa negara di Eropa lainnya juga mengalami penurunan. Walaupun demikian remaja yang lebih dewasa ini masih memiliki memori imunologis yang dapat melindungi mereka dari serangan penyakit. Di Amerika Serikat kebanyakan anak-anak telah diimunisasi pada kuartal ke-2 sejak tahun 1997, 95% dari anak-anak berusia 2 tahun menerima 3 dosis vaksin difteri. Antitoksin yang terbentuk melindungi orang terhadap penyakit sistemik namun tidak melindungi dari kolonisasi pada nasofaring.
Penyakit difteri merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, dimana sesuai dengan  pengembangan  program imunisasi (PPI) maka sasaran program ini adalah bayi 3-14 bulan untuk DPT, polio, campak, BCG dan anak SD kelas 1 usia 6-7 tahun untuk DTdab anak umur 12-13 tahun untuk tt. penyakit difteri dilaboraturium ilmu kesehatan anak fk usu/rspm masih merupakan problem, dimana masih dijumpai angka kematian  yang tinggi pada penderita difteri. Hal ini disebabkan oleh karena terlambatnya penderita dating kerumah sakit dan disebabkan rendahnya status imunitas penderita terhadap difteri sehingga daya tyahan tubuh si anak sangat rendah atau tidak ada sama sekali.

1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas dapat diambil beberapa rumusan masalah sebagai berikut:
1.2.1 Bagaimana tinjauan singkat mengenai penyakit difteri?
1.2.2 Bagaimana mekanisme penularan penyakit difteri?
1.2.3 Bagaimana upaya pengobatan dan pencegahan penyakit difteri?
1.3 TUJUAN
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan makalah ini antara lain:
1.3.1 Untuk mengetahui tinjauan   singkat mengenai penyakit difteri
1.3.2 Untuk mengetahui mekanisme penularan penyakit difteri
1.3.3 Untuk mengetahui  upaya pengobatan dan pencegahan penyakit difteri

1.4 MANFAAT
Manfaat penulisan makalah ini adalah untuk menambah wawasan dan pengetahuan para pembaca mengenai pentingnya kesehatan dan bahaya-bahaya penyakit menular yang diakibatkan oleh bakteri maupun organisme lainnya. Dan mampu menjadi sumber informasi tambahan mengenai penyakit difteri secara umum.




BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Tinjauan Singkat Penyaklit Difteri
2.1.1 Difinisi Penyakit Difteri
Difteri adalah suatu infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri penghasil toksin Corynebakterium diphtheriae. Penyakit ini menyerang saluran pernafasan (terutama laring, tenggorokan, dan amandel). Namun penyakit ini bisa juga menyerang kulit dan toksin yang dihasilkan Corynebakterium diphtheriae dan bisa menyebabkan kerusakan pada saraf dan jantung.
Corynebakterium diphtheriae adalah bakteri patogen yang dikenal juga sebagai basillus Kleb Loffler. Karena ditemukan pada 1884 oleh bakteriolog jerman, Edwin Klebs (1834-1912) dan Friedrich Loffler (1852-1915).
Corynebakterium diphtherieae adalah makluk anaerobik fakultatif dan gram positif, dengan ciri-ciri sebagai berikut:
• Tidak berkapsul
• Tidak berspora
• Tidak bergerak
• Berbentuk batang 1-8µm
• Lebar 0,3-0,8 µm
Bakteri ini peka terhadap sebagian besar antibiotika seperti, penisillin, ampisilin, sefalosparin, kuinolon, dan tetrasiklin.
Gambar 1. Bakteri Corynebacterium diphtheriae

2.1.2 Gejala-gejala Penyakit Difteri
Difteri berkembang sesudah masa inkubasi 1-5 hari dan diklasifikasi menurut lokalisasi  anatomik dari membran yang terkena (hidung, tonsil, faring, dan laring) difteri tonsil dan faring ditandai oleh mulainya diam-diam, anoreksia, malaise, deman ringan dan nyeri tenggorokan.
Adapun gejala-gejala umum  yang tampak ketika anak terinfeksi kuman difteri setelah 2-4 hari  yaitu:
a. Deman dan kadang-kadang sampai menggigil
b. Sakit tenggorokan ketika menelan
c. Denyut jantung cepat
d. Muntah-muntah
e. Sakit kepala
f. Nyeri otot
g. Wajah pucat
h. Tekanan darah mengalami penurunan
Gejala-gejala ini disebabkan oleh racun yang dihasilkan oleh kuman difteri. Jika tidak diobati racun-racun yang dihasilkan oleh kuman ini dapat menyebabkan reaksi peradangan pada jaringan saluran nafas bagian atas sehingga sel-sel jaringan dapat mati.
Sel-sel jaringan yang mati bersamaan dengan sel radang membentuk suatu membran atau lapisan yang dapat mengganggu masuknya udara pernafasan. Membran atau lapisan ini berwarna abu-abu kecoklatan sehingga gejalanya anak menjadi sulit bernafas. Jika lapisan terus terbentuk dan menutup saluran nafas yang lebih di bawah akan menyebabkan anak-anak tidak dapat bernafas dan ini mengakibatkan timbulnya kematian jika tidak ditangani dengan segera.

2.1.3 Komplikasi Penyakit Difteri
Racun difteri bisa menyebabkan kerusakan pada jantung,ginjal,sistem saraf ataupun organ lainnya seperti:
• Myokarditis (peradangan dinding otot jantung ) bisa menyebabkan gagal jantung.
• Kelumpuhan saraf atau neuritis perifer menyebabkan gerakan menjadi tidak terkoordinasi
• Dapat menyebabkan kelumpuhan jika terjadi kerusakan saraf yang berat
• Kerusakan ginjal.
• Kesulitan pernafasan

2.1.4 Diagnosis Penyakit Difteri
Berdasarkan gejala yang ditimbulkan diagnosis  dapat dilakukan dengan pengujian secara fisik yang dapat mengungkapkan karakteristik selaput ( pseudomembran) di dalam kerongkongan, memperbesar kelenjar getah bening, dan bengkak menyangkut  pangkal tenggorokan atau leher. Jika difteri dicurigai, perawatan harus dimulai dengan seketika,
Test yang digunakan untuk mendeteksi penyakit Difteri boleh meliputi:
• Gram Noda kultur kerongkongan atau selaput untuk mengidentifikasi Corynebacterium diphtheriae.
• Untuk melihat ada tidaknya myocarditis (peradangan dinding otot jantung) dapat di lakuka dengan electrocardiogram (ECG)
Dan dengan  uji schick yaitu sejumlah kecil toksin difteri disuntikkan secara intrakutan dan jika tidak ada antitoksin, maka akan terjadi respon radang lokal yang terjadi memuncak pada 5 hari. Serta perlu adanya kontrol toxoid karena beberapa orang tersensitisasi pada toksin dan terjadi reaksi positif walaupun ada antibody netralisasi.  

2.2 Mekanisme Penularan Penyakit Difteri
Patogenesis difteri mulai dengan kolonisasi Corynebakterium diphtheria mokosa hidung atau mulut dengan produksi toksin oleh strain lisogen yang terjadi beberapa hari pasca inkubasi .
Cara penularan penyakit difteri adalah melalui kontak langsung  dengan penderita atau karier jarang sekali penularan melalui peralatan yang tercemar. Susu yang tidak dipasturisasi dapat berperan sebagai medium penularan. Bakteri ini ditularkan melalui percikan ludah dari batuk penderita atau benda maupun makanan yang telah terkontaminasi oleh bakteri. Ketika telah masuk dalam tubuh, bakteri melepaskan toksin atau racun. Toksin ini menyebar melalui darah dan bisa menyebabkan kerusakan jaringan diseluruh tubuh terutama jantung dan saraf. Toksin biasanya menyerang saraf tertentu, misalnya tengorokan.
Penderita mengalami kesulitan menelan pada minggu pertama kontaminasi toksin. Antara minggu ketiga sampai minggu keenam, bisa terjadi peradangan pada saraf lengan dan tungkai, sehingga terjadi kelemahan pada lengan dan tungkai. Kerusakan pada otot jantung (miokarditis) bisa terjadi kapan saja selama minggu pertama sampai minggu keenam, bersifat ringan, tampak sebagai kelainan ringan pada EKG. Namun, kerusakan bisa sangat berat, bahkan menyebabkan gagal jantung dan kematian mendadak.Pemulihan jantung dan saraf berlangsung secara perlahan selama berminggu-minggu. Pada penderita dengan tingkat kebersihan buruk, tak jarang difteri juga menyerang kulit
Pada serangan difteri berat akan ditemukan pseudomembran, yaitu lapisan selaput yang terdiri dari sel darah putih yang mati, bakteri dan bahan lainnya, di dekat amandel dan bagian tenggorokan yang lain. Membran ini tidak mudah robek dan berwarna abu-abu. Jika membran dilepaskan secara paksa, maka lapisan lendir di bawahnya akan berdarah. Membran inilah penyebab penyempitan saluran udara atau secara tiba-tiba bisa terlepas dan menyumbat saluran udara, sehingga anak mengalami kesulitan bernafas.
Masa penularan beragam,  bakteri tetap menular sampai tidak ditemukan lagi bakteri dari discharge dan lesi; biasanya berlangsung 2 minggu atau kurang bahkan kadangkala dapat lebih dari 4 minggu. Terapi antibiotik yang efektif dapat mengurangi penularan. Carrier kronis dapat menularkan penyakit sampai 6 bulan. Reservoir penyakit difteri adalah manusia dan memiliki masa inkubasi Biasanya 2-5 hari terkadang lebih lama.

2.3 Upaya Pengobatan Dan Pencegahan  Penyakit Difteri
a. Upaya Pencegahan Penyakit Difteri antara lain :
Di negara berkembang penyakit difteri sering penyebab kematian  pada anak-anak. Untungnya pada saat ini telah dikembangkan vaksin difteri (DPT) yang menjadi imunisasi wajib pada anak-anak namun kekebalan hanya diperoleh selama 10 tahun setelah imunisasi.
Adapun upaya yang bisa dilakukan dalam upaya pencegahan penyakit difteri antara lain:
  • Memberikan penyuluhan kepada masyarakat terutama kepada orang tua tentang bahaya dari penyakit difteri dan pentingnya imunisasi aktif diberikan kepada bayi dan anak-anak.
  • Melakukan imunisasi aktif secara luas dengan  diptheriae toxoid (DT). Imunisasi ini dilakukan pada waktu bayi  denganvaksin yang mengandung diptheriae toxoid (DT), tetanus toxoid dan antigen.
  • Mengadakan imunisasi secara terjadwad seperti berikut:
  1. Untuk anak-anak berusia kurang dari 7 tahun yaitu imunisasi dasar untuk vaksin DTP-hib 3 dosis pertama diberikan dengan interval 4-8 minggu. Dosis pertama diberikan saat bayi berusia 6-8 minggu , dosis ke-4 diberikan 6-12 bulan setelah dosis ke-3 diberikan. Dan dosis ke-5 diberikan pada saat usia anak 4-6 tahun dan jika dosis ke-4 telah diberikan pada usia 4 tahun maka dosis ke-5 tidak perlu diberikan lagi.
  2. Untuk usia 7 tahun keatas yaitu: dua dosis pertama diberikan dengan interval 4-6 minggu. Osis ke-3 diberikan 6 bulan -1 tahun setelah dosis ke-2 diberikan dan untuk mempertahankan tingkat perlindungan maka perlu dilakukan pemberian dosis TD setiap 10 tahun.
  • Memberikan imunisasi dasar lengkap kepada petugas kesehatan dan pemberian dosis boster TD.
  • Memberikan laporan kepada petugas kesehatan tentang penyakit menular.
  • Isolasi,adalah pemisahan penderita penyakit infeksi difteri dari orang-orang sehat disekitarnya untuk menghindari terjadinya penularan.
  • Desinfeksi serentak, yaitu tindakan untuk membunuh bibit penyakit yang berada di luar tubuh manusia  ini dilakukan terhadap semua barang yang dipakai oleh penderita dan terhadap barang yang tercemar penderita serta dilakukan pencucian secara menyeluruh.
  • Kerantina,adalah pembatasan kebebasan seseorang yang telah mendapat penularan suatu penykit.dan bila dalam pengawasan ini ia benar-benar menderita penyakit, ia kemudian akan diisolasikan dan jika telah masa inkubasinya ia tetap sehat maka ia akan dibebaskan kembali. ini dilakukan terhadap orang dewasa yang pekerjaannya berhubungan dengan pengolahan makanan atau terhadap mereka yang dekat dengan anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi.
  • Menejem kontak, yaitu semua kontak dengan penderita harus dilakukan kultur dari samel hidung dan tenggorokan, dan ini diawasi selama 7 hari.
  • Investigasi kontak dan sumber infeksi, yaitu pencarian carrier dengan menggunakan kultur dari sampel yang diambil dari hidung dan tenggorokan. Ini sangat bermanfaat jika dilakukan terhadap kontak yang sangat dekat.
  • Melakukan identifikasi terhadap mereka yang kontak dengan penderita dan mencari orang-orang yang beresiko dilokasi yang terkena wabah.

b.Upaya Pengobatan Penyakit Difteri antara lain:
Pengobatan  terhadap pasien difteri yang paling baik adalah pencegahan dengan imunisasi yang tepat. Namun pengobatan dapat juga dilakukan dengan cara sebagai berikut:
  • Pemberian obat penolak difteri (antitoxsin corynebacterium) ini bisa diberikan sebagai suatu intramuscular atau suntikan kedalam pembuluh darah.
  • Penderita dirawat dirumah sakit dan mendapatkan perawatan yang intensif.
  • Anak yang terinfeksi dilarang terlalu banyak bergerak untuk mencegah peradangan pada jantung.
  • Pengobatan spesifik, misalnya procain penicillin diberikan sebanyak 25.000-50.000 unit/Kg BB untuk orang dewasa perhari.



BAB III
PENUTUP

3.1 SIMPULAN
Dari pembahasan diatas dapat diambil beberapa kesimpulan antara lain:
  1. Difteri adalah suatu infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri penghasil toksin Corynebakterium diphtheriae. Penyakit ini menyerang saluran pernafasan (terutama laring, tenggorokan, dan amandel).
  2. Mekanisme penularan difteri yaitu melalui kontak langsung  dengan penderita atau karier jarang sekali penularan melalui peralatan yang tercemar. Susu yang tidak dipasturisasi dapat berperan sebagai medium penularan. Bakteri ini ditularkan melalui percikan ludah dari batuk penderita atau benda maupun makanan yang telah terkontaminasi oleh bakteri. Ketika telah masuk dalam tubuh, bakteri melepaskan toksin atau racun. Toksin ini menyebar melalui darah dan bisa menyebabkan kerusakan jaringan diseluruh tubuh terutama jantung dan saraf.
  3. Upaya pencegahan dan pengobatan dengan menggunakan imunisasi yang tepat dan lengkap dari anak-anak dan orang dewasa.
3.2 SARAN
  1. Bagi orang tua yang masih memiliki bayi diharapkan segera melukan imunisasi pada anak-anaknya.
  2. Bagi masyarakat umum diharapkan untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan
  3. Partisipasi pemerintah tentang pembrantasan  penyakit penular lebih ditingkatkan
  4. Fasilitas-fasisilitas kesehatan terutama di daerah-daerah terpencil perlu ditingkatkan.

*Artikel ini dibuat pada  10 April 2008 sebagai salah satu bentuk tugas Mata Kuliah Kesehatan Masyarakat. Tulisan ini masih jauh dari sempurna, sehingga kritik dan sarannya sangat penulis harapkan....
Semoga Bermanfaat.....!
Azhadira Crew, Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja 2008.

Popular Posts

Annas Kurniawan. Diberdayakan oleh Blogger.

Teman

Ikuti Melalui Email